Kebiasaan menatap ponsel sesaat setelah bangun tidur dapat membuat cahaya pagi terlewat begitu saja. Padahal, cahaya yang diterima mata berperan sebagai sinyal bagi tubuh untuk mengenali pergantian siang dan malam. Sinyal tersebut membantu mengatur ritme biologis selama 24 jam, termasuk waktu tubuh untuk terjaga dan beristirahat.
Ulasan yang dimuat dalam Public Health Reviews pada 2026, sebagaimana dilansir dari National Center for Biotechnology Information, menjelaskan bahwa cahaya merupakan salah satu petunjuk utama bagi sistem sirkadian. Sistem biologis ini mengatur berbagai fungsi tubuh berdasarkan siklus sekitar 24 jam.
Cahaya pagi menjadi penanda dimulainya aktivitas
Ketika cahaya masuk ke mata pada pagi hari, tubuh memperoleh informasi bahwa hari telah dimulai. Informasi terang dan gelap itu kemudian digunakan untuk menyelaraskan sejumlah proses biologis dengan waktu dalam sehari. Karena itu, paparan cahaya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melihat, tetapi juga dengan pengaturan waktu tubuh.
Dalam ulasan tersebut, paparan cahaya disebut dapat memengaruhi waktu kerja ritme sirkadian, tidur, tingkat kewaspadaan, suasana hati, hingga kemampuan kognitif. Cahaya pagi, dengan demikian, berfungsi sebagai salah satu sinyal yang membantu tubuh membedakan waktu untuk aktif dan waktu untuk beristirahat.
Kaitan dengan kualitas tidur belum berarti sebab-akibat
Hubungan antara cahaya pagi dan tidur turut terlihat dalam penelitian yang diterbitkan BMC Public Health pada 2025. Studi terhadap 1.762 orang dewasa di Brasil itu menemukan bahwa paparan sinar matahari pagi berkaitan dengan sleep midpoint yang lebih awal serta skor kualitas tidur yang lebih baik.
Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa sinar matahari pagi secara langsung menyebabkan tidur menjadi lebih baik. Penelitian itu menggunakan metode cross-sectional, yakni mengamati populasi pada satu titik waktu. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara paparan cahaya pagi dan indikator tidur, bukan hubungan sebab-akibat yang sudah dipastikan.
Temuan ini juga tidak berarti setiap orang harus berjemur selama 30 menit atau satu jam setiap pagi. Ulasan 2026 menegaskan bahwa tidak ada durasi paparan yang berlaku universal. Respons tubuh terhadap cahaya dipengaruhi oleh waktu paparan, intensitas, spektrum, durasi, paparan cahaya sebelumnya, usia, jadwal kerja, kondisi kesehatan, dan lokasi geografis.
Untuk memasukkan cahaya alami ke dalam rutinitas, seseorang dapat memanfaatkan aktivitas pagi yang biasa dilakukan. Membuka kesempatan untuk memperoleh cahaya saat duduk, beraktivitas di rumah, sarapan, atau melakukan kegiatan di luar ruangan dapat membantu tubuh menerima sinyal terang dan gelap yang sesuai dengan siklus harian.
Karena itu, sebelum langsung beralih ke layar setelah bangun tidur, memberi tubuh kesempatan menerima cahaya pagi dapat menjadi bagian dari rutinitas harian. Kebiasaan tersebut bukan sekadar upaya untuk “terkena matahari”, melainkan cara memberi tubuh informasi mengenai perubahan waktu antara malam dan siang.
