Ternyata, Otak Tidak Benar-Benar Bisa Multitasking

by -64 Views

Kebiasaan membuka laptop untuk mengerjakan tugas, lalu beralih membalas pesan sebelum kembali ke pekerjaan utama, sering dianggap sebagai multitasking. Padahal, ketika semua aktivitas itu sama-sama membutuhkan perhatian, otak umumnya tidak memprosesnya secara penuh dalam waktu bersamaan. Yang terjadi lebih sering adalah perpindahan fokus dari satu tugas ke tugas lainnya.

Perhatian Berpindah, Bukan Bekerja Bersamaan

Multitasking kerap dipahami sebagai kemampuan mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Namun, penjelasan yang dilansir dari National Library of Medicine pada 20/9 menyebutkan bahwa otak memiliki keterbatasan ketika harus menangani sejumlah tugas yang memerlukan perhatian dan pengambilan keputusan.

American Psychological Association, juga pada 20/9, menjelaskan proses tersebut sebagai task switching. Istilah ini merujuk pada tindakan mengalihkan perhatian dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, kemudian mengembalikannya lagi ke tugas sebelumnya.

Contohnya dapat terlihat ketika seseorang sedang mengerjakan tugas rumah lalu menerima notifikasi pesan. Perhatian yang semula tertuju pada pekerjaan rumah beralih untuk membaca dan membalas pesan. Setelah urusan itu selesai, fokus kembali diarahkan pada pekerjaan yang sempat ditinggalkan.

Perubahan fokus tersebut dapat berlangsung sangat cepat sehingga seseorang merasa sedang mengerjakan dua hal sekaligus. Namun, setiap perpindahan tetap menuntut otak untuk menyesuaikan diri dengan konteks tugas yang baru. Ketika kembali ke pekerjaan awal, perhatian perlu dibangun lagi agar dapat melanjutkan proses yang sebelumnya terhenti.

Performa Dapat Menurun

Dalam praktiknya, rangkaian aktivitas seperti menulis, membuka email, membalas chat, mengakses halaman lain, lalu kembali ke tulisan utama mungkin hanya tampak sebagai gangguan singkat. Akan tetapi, pengalihan berulang membuat pekerjaan tidak lagi berjalan dalam satu alur yang utuh.

Akibatnya, tugas yang seharusnya dapat diselesaikan lebih cepat bisa memerlukan waktu lebih panjang. Penelitian juga menunjukkan bahwa kinerja seseorang dapat menurun ketika menangani beberapa tugas dibandingkan saat memusatkan perhatian pada satu pekerjaan.

Meski demikian, tidak semua aktivitas yang dilakukan bersamaan memiliki dampak yang sama. Berjalan sambil berbicara, misalnya, dapat terasa lebih mudah karena salah satu aktivitasnya sudah berlangsung secara otomatis. Kondisinya berbeda jika dua pekerjaan sama-sama menuntut konsentrasi, pemahaman, dan keputusan.

Karena itu, persoalan utama dalam multitasking bukan semata-mata jumlah aktivitas yang dilakukan pada satu waktu. Faktor yang lebih menentukan adalah seberapa besar perhatian yang dibutuhkan oleh masing-masing aktivitas. Dua tugas yang sama-sama menuntut fokus akan membuat otak lebih sering berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Otak tetap mampu mengatur beberapa aktivitas, tetapi tidak selalu mengerjakannya secara lengkap dan bersamaan. Dalam banyak situasi, rasa sibuk muncul karena perhatian terus dialihkan, bukan karena seluruh tugas benar-benar diproses pada saat yang sama.

Source link