Rumah yang penuh barang, tumpukan pakaian, meja yang belum dibereskan, atau piring kotor tidak hanya mengganggu pandangan. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat membuat pikiran terasa lebih sesak dan waktu beristirahat menjadi kurang menenangkan.
Temuan dalam Journal of Environmental Psychology melalui penelitian “Home clutter and mental well-being…” karya Francis Quinn (2025) menunjukkan adanya hubungan antara kekacauan di rumah dan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Namun, penelitian itu tidak menyatakan bahwa rumah berantakan secara otomatis menyebabkan stres. Cara penghuni memandang dan mengalami kondisi rumahnya turut menentukan dampaknya.
Clutter dipengaruhi cara penghuni merasakan rumah
Ukuran rumah yang dianggap berantakan tidak berlaku sama bagi setiap orang. Ruangan dengan banyak barang mungkin terasa biasa saja bagi seseorang, tetapi dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata jumlah benda yang berada di dalam rumah, melainkan apakah kondisi tersebut membuat penghuninya merasa terganggu, tidak nyaman, atau kehilangan kendali.
Rumah umumnya dipahami sebagai tempat untuk beristirahat dan merasa aman setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Ketika ruangan terasa terlalu ramai atau banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, fungsi pemulihan itu dapat berkurang. Dalam riset tersebut, orang yang menggambarkan rumahnya sebagai lebih “stressful” karena clutter dan kesan tidak selesai menunjukkan pola peningkatan suasana hati yang tertekan sepanjang hari.
Dengan kata lain, rumah yang seharusnya menjadi ruang untuk memulihkan diri justru bisa mengingatkan penghuninya pada berbagai hal yang masih harus dikerjakan.
Barang yang terlihat dapat menjadi pengingat pekerjaan
Tumpukan pakaian, misalnya, dapat memunculkan pikiran bahwa pakaian itu harus dilipat. Meja yang penuh barang mengingatkan bahwa area tersebut perlu dibereskan, sementara piring kotor menandakan pekerjaan mencuci yang belum dilakukan. Satu per satu benda mungkin terlihat sepele, tetapi kemunculannya secara bersamaan dapat membuat perhatian terus tertuju pada tugas yang tertunda.
Kondisi semacam ini berkaitan dengan rasa kewalahan. Peneliti mencatat bahwa stres dapat membuat seseorang merasa berada di bawah tekanan atau kehilangan kendali. Dampaknya bisa berupa kesulitan mengambil keputusan dan berkonsentrasi. Jika rumah terus dirasakan tidak terkendali, situasi tersebut berpotensi menambah beban, terutama ketika seseorang juga menghadapi tekanan lain.
Meski begitu, rumah rapi bukan jaminan seseorang memiliki kondisi psikologis yang lebih sehat. Tidak ada standar rumah “sempurna” yang berlaku untuk semua orang. Sebaliknya, rumah yang tidak selalu rapi juga tidak otomatis menandakan adanya masalah psikologis.
Penelitian itu menunjukkan keterkaitan antara clutter dan kesejahteraan, tetapi belum menjelaskan hubungan sebab-akibat secara menyeluruh. Karena itu, peneliti menekankan perlunya penelitian eksperimental lebih lanjut.
Rumah yang berantakan memang bisa membuat pikiran terasa penuh, tetapi pengaruhnya bergantung pada pengalaman masing-masing penghuni. Yang lebih penting bukan menjaga rumah tetap sempurna setiap saat, melainkan memastikan ruang tersebut masih dapat dirasakan sebagai tempat untuk pulang, beristirahat, dan memulihkan diri.
