Integrasi Ekonomi dalam Konservasi Ala Wahdi Azmi

by -84 Views

Selama ini, pembicaraan mengenai konservasi di Indonesia cenderung berfokus pada hutan dan perlindungan satwa liar. Kita sering mendengar cerita tentang berkurangnya luas habitat alami, berkurangnya populasi hewan, atau konflik antara manusia dan binatang yang makin sering terjadi. Fokus ini tidak jarang mengesampingkan faktor manusia yang hidup berdampingan dengan alam.

Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan konservatoris kawakan, paham betul bahwa pendekatan konservasi yang terlalu terpusat pada satwa liar malah meninggalkan celah besar. Dalam sebuah diskusi Leaders Talk Tourism yang menyinggung Surat Edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Wahdi menekankan pentingnya memikirkan manusia sebagai bagian utuh dari ekosistem.

Ia mengatakan, “Jika masyarakat tidak merasakan manfaat dari konservasi, maka upaya itu akan selalu mengalami resistensi.” Pengalamannya menghadapi konflik manusia–gajah di Sumatera mengajarkan bahwa masalah utama seringkali bukan perilaku binatang, tapi karena perubahan bentang alam tidak diikuti dengan solusi sosial dan ekonomi bagi manusia sekitar. Lahan hutan yang berubah menjadi perkebunan atau kawasan permukiman mempersempit tempat hidup satwa sekaligus menambah beban ekonomi bagi warga.

Dalam keadaan seperti itu, konflik antara manusia dengan satwa sering kali tak bisa dihindari. Wahdi menekankan, bukan hanya soal konflik itu sendiri, tapi cara menyikapi dan merespon situasi inilah yang menentukan keberhasilan konservasi. Banyak kebijakan proteksi yang diterapkan dengan membatasi aktivitas manusia di kawasan konservasi tampak teoritis memang logis—tetapi di lapangan, pendekatan ini acap kali memperbesar jarak dengan masyarakat.

Bagi warga sekitar, kebijakan seperti itu bukan berarti perlindungan alam, tapi justru keterbatasan akses, kurangnya kesempatan ekonomi, hingga meningkatnya kemungkinan bentrok dengan satwa liar. Alhasil, konservasi cenderung dianggap beban, bukan kepentingan bersama.

Konservasi, menurut Wahdi, perlu pendekatan integrasi, bukan sekadar proteksi. “Manusia itu bagian dari ekosistem, jadi tidak bisa hanya konservasi untuk satwa saja,” ujarnya. Yang diperlukan adalah hubungan nyata antara upaya konservasi dengan kebutuhan ekonomi dan pengetahuan masyarakat. Jika keterkaitan ini tidak dibangun, maka program konservasi mudah rapuh dan hanya bergantung pada campur tangan pihak luar.

Gagasan tentang integrasi antara pelestarian alam, ekonomi, dan edukasi ini semakin terasa relevan jika kita melihat contoh di Mega Mendung, Bogor. Di kawasan penyangga ekologi Jabodetabek tersebut, semakin luas lahan berubah fungsi menjadi permukiman atau tempat usaha, mengancam kelestarian hutan dan sistem air.

Di bawah inisiatif Andy Utama dan Yayasan Paseban, kawasan Arista Montana di Mega Mendung menjadi salah satu area yang mengedepankan sinergi antara konservasi dan kehidupan masyarakat. Di sini, konservasi tidak lagi menjadi wacana yang terpisah dari kebutuhan sehari-hari, melainkan menjadi bagian inti dalam aktivitas ekonomi seperti pertanian organik berbasis komunitas.

Para petani lokal diikutsertakan untuk mengelola lahan, mendapatkan pelatihan, sehingga hasil panen menjadi lebih berkelanjutan dan lingkungan pun terjaga. Dengan sistem ini, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi kewajiban moral, tapi juga menjadi prasyarat ekonomi. Kesehatan tanah dan air berkaitan langsung dengan hasil pertanian yang didapat. Maka, keseimbangan antara ketiganya menciptakan vitalitas lokal.

Masyarakat juga dibekali keterampilan oleh Yayasan Paseban bukan hanya untuk menjaga lingkungan, namun juga untuk memastikan kelangsungan ekonomi lewat berbagai pelatihan, mulai dari teknik pertanian organik hingga pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Edukasi ini membekali masyarakat dengan kemampuan nyata, membangun kesadaran dan praktik berkelanjutan, yang pelan-pelan menggeser posisi mereka dari “objek” menjadi “subjek” pelaku utama konservasi.

Pengalaman ini bersinggungan dengan apa yang digagas Wahdi Azmi di Sumatera. Di dua lokasi berbeda, baik menghadapi konflik manusia–gajah di Sumatera ataupun memajukan pertanian ramah lingkungan di Mega Mendung, tantangannya tetap seputar relasi antara lingkungan hidup dan kesejahteraan manusia. Di Sumatera, konflik lahir ketika adaptasi ekonomi dan ruang hidup tidak terintegrasi; di Mega Mendung, potensi konflik dapat dicegah dengan meletakkan konservasi di jantung ekonomi masyarakat.

Keberhasilan konservasi, sebagaimana terlihat di kedua tempat tersebut, tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kawasan hutan yang bisa diamankan, melainkan seberapa mendalam keterhubungan antara manusia, alam, dan pengetahuan yang diaktualisasikan sehari-hari.

Bukan perkara lemahnya konsep, kegagalan konservasi sering kali tumbuh karena terbatasnya kapasitas lokal. Terlalu sering, masyarakat tidak dilibatkan, tidak mempunyai keahlian yang memadai, dan tidak mendapat hasil ekonomi dari program konservasi. Padahal, ketika pelibatan masyarakat dilaksanakan dengan sungguh-sungguh melalui pelatihan dan pemberian akses peluang, konservasi bisa tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Meluasnya praktik integrasi seperti di Mega Mendung menjadi semakin penting di tengah percepatan pembangunan. Indonesia butuh model yang mampu menyeimbangkan kebutuhan lingkungan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Konservasi masa kini tidak bisa lagi sekadar dianggap urusan lembaga; ia harus menjadi bagian dari sistem sosial dan ekonomi yang lebih besar—mengaitkan ekosistem dengan kesejahteraan, serta pengetahuan dengan tindakan nyata.

Tanpa hubungan yang erat ini, konservasi hanya menjadi pertahanan terakhir yang terus digempur tekanan ekonomi dan pembangunan. Namun, jika integrasi sosial, ekonomi dan edukasi berjalan, konservasi justru bisa melahirkan fondasi bagi pembangunan yang lestari.

Seperti yang selalu diingatkan Wahdi, pertanyaan pokok mengenai konservasi bukan sekadar soal menjaga kelestarian alam, tapi juga menyoal tentang alasan dan manfaat apa yang bisa menjadi daya tarik bagi manusia agar turut aktif menjaganya.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi