PDIP: Tetap Setia pada Karisma Megawati Meski Dorong Keterbukaan PSI

by -264 Views

Dua partai politik, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), baru saja menggelar kongres partai dalam waktu yang berdekatan. Perbedaan sistem internal antara keduanya terlihat jelas, dimana PSI memilih ketua umum secara terbuka dengan sistem one man one vote, sedangkan PDIP menggunakan mekanisme aklamasi. Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Solo, Herning Suryo, perbedaan ini mencerminkan kultur politik yang masih dipengaruhi oleh pola patronase, terutama dalam tubuh PDIP.

Herning mengamati bahwa, meskipun banyak kader PDIP memiliki kapasitas dan kapabilitas, belum ada yang cukup kuat untuk mengambil alih posisi pemimpin partai. PDIP masih menginginkan pemimpin yang memiliki karisma dan kesejarahan dalam perjalanan partai politik itu sendiri. Sementara itu, PSI sedang membangun fondasi sebagai partai terbuka, yang dianggap sebagai langkah positif dalam perkembangan demokrasi. Meskipun demikian, keberhasilan strategi PSI sebagai partai terbuka masih perlu diuji oleh respons publik.

Herning menegaskan perlunya konsistensi PSI dalam merawat identitasnya sebagai partai terbuka dengan menerapkan sistem one man one vote dalam pemilihan ketua umum. Meskipun PSI membutuhkan figur karismatik untuk menarik pemilih, anak muda yang merupakan basis partai ini lebih kritis dan memperhatikan berbagai aspek sebelum memutuskan untuk bergabung. Oleh karena itu, PSI disarankan untuk tetap menjadi partai inklusif dan responsif terhadap isu-isu sosial guna mempertahankan sasaran generasi muda.

Mengenai keputusan PDIP untuk tetap menjadikan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum, Herning menyoroti pengaruh kultur patronal dalam partai tersebut. Ia menegaskan bahwa PDIP masih membutuhkan Megawati karena karismanya yang kuat. Meskipun terdapat potensi tokoh lain, belum ada regenerasi yang signifikan di dalam partai. Herning menutup pembahasannya dengan merujuk pada aspek positif dan negatif dari keberadaan Megawati sebagai salah satu tokoh sentral dalam PDIP.

Source link