Paseban Foundation menegaskan kiprahnya sebagai jembatan lintas sektor yang mendorong sinergi dalam konservasi dan penyebaran pengetahuan. Melalui berbagai momentum penting, lembaga ini menunjukkan betapa kolaborasi menjadi tulang punggung dalam menjaga kelestarian lingkungan, termasuk kawasan Megamendung yang merupakan bagian dari Cagar Biosfer Cibodas.
Pada peringatan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus dua tahun berdirinya Paseban Foundation, mereka menggelar annual dinner bertemakan “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve.” Ajang ini menghadirkan banyak pihak dari pemerintahan, lembaga internasional, swasta, filantropi, hingga generasi muda. Di kesempatan ini, semua peserta menyuarakan pentingnya kerja bersama, karena tantangan konservasi tidak bisa diatasi sendiri-sendiri, melainkan butuh jejaring antar sektor.
Menurut Andy Utama, pendiri sekaligus pembina Paseban Foundation, lembaganya hadir sebagai ruang untuk bertemu, bertukar gagasan, serta mengatur strategi konservasi berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa regenerasi pegiat konservasi adalah kunci. Ia menegaskan, “Tak ada pekerjaan konservasi yang selesai oleh satu orang atau dalam waktu singkat. Kita harus memastikan, semangat ini diwariskan.” Maka, Paseban Foundation juga memberi tempat luas bagi generasi baru agar kerja konservasi tidak pernah terhenti.
Peran utama mereka bukan menjadi pusat seluruh aktivitas konservasi, melainkan penghubung beragam pihak agar masing-masing dapat bergerak membawa sumber daya dan keahlian untuk perlindungan alam bersama. Jalan kolaborasi ini merangkul pemerintah, perusahaan, peneliti, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal dan pemuda.
Berbekal pengalaman langsung di lapangan, Paseban Foundation melaksanakan kegiatan konservasi seperti perlindungan habitat, restorasi ekosistem, serta penanaman pohon endemik yang jumlahnya telah melebihi 21.000 batang. Selain itu, mereka mengembangkan penangkaran nonkomersial untuk satwa liar seperti burung dan mamalia, di antaranya berhasil melahirkan anak rusa.
Tak hanya kegiatan fisik, upaya konservasi juga diperkuat dengan riset, survei biodiversitas dengan kamera jebak dan observasi rutin. Wahdi Azmi, Executive Director Paseban Foundation, mengungkap bahwa dari riset tersebut, mereka mendapati kelima spesies primata Jawa masih hidup berdampingan di satu bentang alam yang tidak terlalu luas. Selain itu, kawasan Megamendung juga menjadi habitat burung langka seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, spesies yang terancam akibat desakan populasi manusia di Pulau Jawa.
Pentingnya data dan pengalaman dari lapangan juga digarisbawahi oleh Paseban Foundation. Semua pengetahuan itu tidak hanya disimpan di internal, melainkan diolah kemudian disebarkan lewat riset, pendidikan, advokasi, juga publikasi. Mereka meluncurkan sejumlah inisiatif seperti buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban”, “Kepemimpinan Bentang Alam”, dan film dokumenter “The Silent Resilience”. Karya-karya tersebut menjadi alat untuk memperdalam pemahaman publik tiga hal utama: keanekaragaman hayati, kepemimpinan lingkungan, dan kekuatan regenerasi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa pengelolaan data dari lapangan berfungsi vital untuk disebarluaskan ke masyarakat, sebab dari sana lahir kesadaran dan percakapan publik. Ia melihat bahwa Paseban Foundation berpotensi besar menjadi titik temu bagi kekuatan dan ide dalam mempertahankan Cagar Biosfer Cibodas. Sebaliknya, Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan mengingatkan betapa pentingnya peran generasi muda untuk memastikan keberlanjutan konservasi.
Wiratno, penasihat Paseban Foundation, menilai tantangan utama konservasi saat ini adalah menyatukan kepentingan dan sumber daya lintas batas administratif, sebab air, hutan, satwa, serta manusia berada dalam satu ekosistem utuh. Kepemimpinan yang dituntut adalah mampu merangkul dan membangun kemitraan, bukan sekedar memimpin satu lembaga.
Melalui sinergi berkelanjutan, Paseban Foundation memperkukuh kolaborasi lintas sektor, pengelolaan riset, serta distribusi pengetahuan. Usaha tersebut bukan hanya menopang perlindungan kawasan Megamendung, melainkan juga memberi inspirasi regenerasi, agar upaya konservasi tidak pernah terhenti pada satu program atau satu generasi saja. Dengan demikian, mereka berharap fondasi pelestarian alam dapat tumbuh kokoh menembus masa depan.
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut





