Bencana Alam Longsor Akibat Abrasi Sungai Menghantui Kuala Enok
Belasan Bangunan Rusak Akibat Longsor
Pada Selasa, 16 Juni 2026, dua titik pemukiman padat penduduk di Kelurahan Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir, mengalami longsor akibat abrasi sungai. Peristiwa ini menyebabkan belasan bangunan warga, rumah ibadah, pelabuhan umum, dan badan jalan mengalami kerusakan signifikan.
Kejadian tersebut menyebabkan kerugian material diperkirakan mencapai Rp320 juta, namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Longsor Pertama di Jalan Merdeka
Pukul 09.45 WIB, longsor pertama terjadi di Jalan Merdeka, mengakibatkan enam bangunan terdampak, dengan lima bangunan mengalami kerusakan ringan dan satu bangunan mengalami kerusakan berat akibat pergeseran tanah yang signifikan.
Di antara bangunan yang rusak adalah toko sembako, rumah sekaligus toko sembako, tempat usaha biliar, dan warung kopi milik warga setempat.
Longsor Kedua di Jalan AEC Kampung Jawa
Longsor kedua terjadi sekitar pukul 10.00 WIB di Jalan AEC Kampung Jawa, dengan tiga rumah warga mengalami kerusakan berat dan lima rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Badan jalan umum juga ambruk sepanjang lima meter.
Peristiwa ini membuat total terdapat 14 bangunan warga terdampak, termasuk rumah tinggal, tempat usaha, rumah ibadah Buddha, pelabuhan umum, dan badan jalan.
Penyebab dan Tindakan Darurat
Berdasarkan pendugaan pihak berwenang, abrasi sungai diyakini menjadi penyebab utama terjadinya longsor di kedua lokasi. Pengikisan bantaran sungai yang terus berlangsung telah melemahkan struktur tanah di kawasan pemukiman.
Sebagai tindakan darurat, garis polisi dipasang di sekitar lokasi longsor untuk mencegah kecelakaan akibat longsor susulan. Petugas juga mendirikan posko bantuan dan melakukan evakuasi barang-barang yang tersisa.
Warga yang rumahnya terdampak sementara mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga terdekat.
Harapan Masyarakat dan Pemerintah
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dalam memitigasi abrasi sungai, termasuk pembangunan pengaman tebing, normalisasi kawasan rawan abrasi, dan program penanggulangan bencana secara menyeluruh.
Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk menjaga keselamatan warga dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.





