Diskusi IR Youth Talks#1 Perkuat Kesadaran Geopolitik Anak Muda

by -114 Views

Diskursus mengenai ancaman perang dunia kembali ramai dibicarakan baik di berbagai platform digital maupun di kalangan masyarakat. Kekhawatiran tersebut menjadi stimulus utama terselenggaranya IR Youth Talks#1 atas prakarsa Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek.

Acara yang digelar pada 21 April 2026 di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia ini memfokuskan pada peran serta Indonesia dalam menghadapi perubahan geopolitik global yang semakin kompleks.

Dalam sesi awal, Anggy Pasaribu, jurnalis dan lulusan Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, membuka percakapan dengan mempertanyakan logika di balik kegelisahan akan potensi perang dunia. Ia mengundang semua peserta untuk tidak terlalu cepat menentukan kesimpulan, melainkan memperluas sudut pandang dan memahami dinamika global dari berbagai sisi.

Selanjutnya, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, menyoroti keharusan bagi anak muda untuk tidak larut dan terjebak dalam kekhawatiran spekulatif tentang pecahnya perang dunia. Alih-alih berfokus pada prediksi, menurutnya bangsa Indonesia harus lebih sigap dalam mempersiapkan diri terhadap berbagai tantangan krisis global yang mungkin datang tiba-tiba.

Ia menegaskan bahwa Lemhannas telah menjalankan evaluasi secara menyeluruh melalui penilaian ancaman global, merancang berbagai skenario kemungkinan, dan mengukur seberapa rentan Indonesia terhadap pengaruh eksternal.

Kajian tersebut memperlihatkan, Indonesia memiliki beberapa kelemahan, antara lain ketergantungan pada impor energi dan pangan serta letak geografis yang membuatnya berada di persimpangan persaingan kekuatan besar dunia di kawasan Indo-Pasifik.

Ketidakseimbangan atau gejolak di tingkat global bisa dengan cepat memicu perubahan domestik, baik dari sisi ekonomi, stabilitas harga, maupun keamanan nasional.

Pada kesempatan berikutnya, Aloysius juga menggarisbawahi urgensi Pancasila untuk memperkokoh ketahanan bangsa. Menurutnya, selain kapabilitas ekonomi dan militer, daya tahan ideologi adalah pondasi utama agar negara tetap kokoh walau diterpa tekanan internasional.

“Jika dasar ideologi kita kuat, Indonesia akan tetap berdiri tegar dalam situasi apapun,” ungkapnya.

Sementara itu, Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, mengajak seluruh peserta diskusi untuk lebih kritis menganalisa isu global dengan pendekatan yang konseptual daripada sekadar bersikap reaktif.

Ia menilai, konflik yang sedang berlangsung di dunia dewasa ini lebih merupakan sebuah proses pergeseran sistem internasional, belum tentu menjadi pemicu perang dunia.

“Saat ini kita justru dihadapkan pada rangkaian krisis yang saling berkaitan, sehingga memperkirakan ujungnya sangat sulit,” ucap Broto.

Broto menambahkan, gelombang krisis yang ada seperti konflik geopolitik, masalah energi, dan tekanan ekonomi global saling berkelindan membentuk situasi yang penuh ketidakpastian.

Dalam diskusi, Broto juga membahas bagaimana tokoh seperti Donald Trump turut mempercepat munculnya ketidakstabilan di tingkat internasional melalui kebijakan-kebijakannya.

Sebagai bentuk mitigasi, ia menawarkan model resilience-based hedging, di mana Indonesia diharapkan mampu merespons melalui keluwesan hubungan luar negeri ditambah penguatan kapasitas di dalam negeri secara konsisten.

Strategi ini dianggap penting agar Indonesia tidak sekadar survive, tetapi benar-benar mampu meminimalkan dampak krisis global terhadap kondisinya sendiri di tengah persaingan negara-negara besar.

IR Youth Talks menjadi ajang kolaborasi antara akademisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa lintas universitas untuk membangun pemahaman kolektif. Terdiri dari enam universitas anggota AIHII Jabodetabek, yakni Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur, forum ini mengedepankan penyebarluasan isu hubungan internasional kepada generasi muda.

Jeanne Francoise dari President University, mewakili AIHII, menegaskan pentingnya forum seperti ini demi menghadirkan diskusi yang inklusif sehingga mahasiswa lebih akrab dengan isu-isu hubungan internasional.

Diskusi ini membuktikan, akses pemahaman terhadap persoalan global bukan hanya ranah akademisi maupun elite, melainkan mutlak diperlukan bagi generasi muda yang akan menanggung konsekuensi berbagai perubahan di masa yang akan datang.

Menutup forum, Anggy mengingatkan agar ruang publik tetap diisi dengan dialog yang sehat. Ia berpesan, kritik memang dibutuhkan, namun penyampaiannya hendaknya dilakukan secara santun dan dalam wadah yang benar.

Menurut Anggy, keterlibatan mahasiswa dalam isu-isu publik bisa dimulai dari pendalaman pemahaman serta penyampaian pendapat secara positif, bukan semata-mata lewat keberanian yang konfrontatif.

Terakhir, ia menegaskan, dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti, penanganan berbasis pemahaman dan kesiapan jauh lebih bermanfaat ketimbang terjebak dalam kekhawatiran tanpa solusi. Pemuda diharapkan mampu menjawab tantangan dunia dengan pendekatan yang bijak, cermat, dan proaktif.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko